Minggu, 02 Januari 2011

Home » » Mencegah Kerontokan Bunga Mangga

Mencegah Kerontokan Bunga Mangga

Kerontokan buah mangga yang terjadi selama ini tidak terlepas dari 2 faktor utama yaitu faktor pengaruh luar dan faktor pengaruh dalam. Pengaruh dalam meliputi keseimbangan hara dan hormon dalam tanaman, tingkat kesuburan tepungsari, kemampuan/kekompakan organ reproduksi serta kondisi lain yang mendukung proses perkembangan buah sejak pembuahan sampai perkembangan buah yang optimal untuk dipanen seperti ketersediaan air. Sedangkan faktor luar meliputi : kesuburan tanah, kondisi iklim ( tingginya curah hujan dan besarnya angin) serta serangan hama penyakit.
Secara alami, bunga mangga muncul kurang lebih satu bulan setelah hujan berakhir dan memerlukan waktu sekitar empat bulan untuk dapat dipanen buahnya. Selama masa pembentukan dan perkembangan tersebut, intensitas kerontokan bisa mencapai 99%. Peristiwa ini sangat terkait dengan tekanan oleh berbagai faktor antara lain:
  1. Kurangnya unsur hara dan hormon tanaman (auksin dan gliberin) pada saat tanaman memasuki periode reproduksi, menyebabkan tingginya kerontokan buah yang diakibatkan oleh adanya persaingan dalam hara dan hormon tanaman tersebut.
  2. Gagalnya persarian dan pembuahan sehingga buah tidak menghasilkan biji yang merupakan pemasok gliberin yang sangat berguna bagi perkembangan buah. Dengan gagalnya pembentukan biji, maka menyebabkan buah rontok.
  3. Kurangnya ketersediaan air selama perkembangan buah, sehingga memacu terbentuknya lapisan absisi pada bagian pangkal tangkai buah. Dalam keadaan seperti ini, kondisi buah sangat lemah sehingga dengan sedikit tekanan saja , buah akan mudah rontok.
  4. Kondisi lahan yang kurang subur sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman selama periode perkembangan buah
  5. Kondisi iklim yang kurang menguntungkan seperti terlalu tingginya curah hujan serta kencangnya angin.
  6. Adanya serangan hama dan penyakit terutama yang menyerang buah seperti lalat buah (Dacus sp) dan penggerek (Norda albizonalis) serta Antraknose dan Diplodia. Serangan hama dan penyakit ini juga dipengaruhi oleh kondisi iklim saat itu.

Upaya Pengendalian Yang Pernah dilakukan

Meskipun kerontokan buah mangga ini selalu dialami petani mangga, namun bukan berarti mereka pasrah. Berbagai upaya telah dilakuan baik oleh petani sendiri maupun oleh lembaga peneltiian sebagai langkah dalam mengatasi setidaknya menekan tingkat kerontokan buah mangga agar tidak terlau banyak.
Beberapa penelitian telah dilakukan dalam rangka mengen-dalikan/menekan kerontokan buah mangga. Diantaranya : (1) penggunaan ZPT (bahan aktif 2,4-D) dan pemupukan, 2. penggunaan ZPT (entrel dan atonik) dan penyiraman dan 3. penyiraman. Hasil dari beberapa percobaan menunjukkan hasil yang belum memuaskan. Pada penggunaan ZPT 2,4-D dosis 10 dan 20 ppm dan pemupukan efektif mengurangi bunga gugur. Hasil percobaan lain dengan penggunaan ZPT etrel dan atonik dan penyiraman hanya mampu menekan gugur buah sampai 85%. Dan metode lain yaitu dengan cara penyiraman selama masa repoduksi dua kali seminggu dapat meningkatkan hasil 49%. Sementara itu di pihak petani, pencegahan kerontokan buah mangga dilakukan dengan pengasapan pada kebun mangga menjelang musim mangga berbunga. Secara teori, meng-asap (memberi asap) berarti mening-katkan kandungan gas ethylene yang memang dapat memacu pembungaan mangga, sehingga bunga mangga dapat muncul lebih awal pada kondisi yang lebih aman.
Cara yang Terbaik

Dari beberapa cara pengendalian yang telah dilakukan, dengan mempertimbangkan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kerontokan buah pada mangga serta hasil dari upaya yang telah dilaksanakan untuk mengurangi besarnya kerontokan buah mangga maka perlu dilaksanakan langkah-langkah tehnis yang dilakukan secara bersamaan yaitu pemupukan, penyiraman dan pengendalian hama/penyakit.

Pemupukan berimbang

Pemupukan dilaksanakan dua kali yaitu pada awal musim hujan dan akhir musim hujan. Untuk tanaman yang berumur anatara 6-10 tahundapat digunakan pupuk ZA, SP 36 serta KCl dengan dosis masing-masing : 2-3 kg ZA, 1-1,5 kg SP 36 plus ( ditambah Zn 2% dan Bo 2%) serta 1-1,5 kg KCl. Disamping pupuk buatan, perlu juga ditam-bahkan pupuk kandang dengan dosis 75-100 kg yang diberikan sekali setahun pada awal musim hujan, lebih awal atau bersamaan dengan pemberian pupuk buatan. Untuk tanaman berumur lebih dari 10 tahun dapat digunakan dosis 3- 4 kg ZA, 1,5-2 kg SP 36 plus ( ditambah Zn 2% dan Bo 2%) serta 1,5-2 kg KCl ditambah pukan 100 kg. Adapun cara pemupukan dapat dilakukan dua kali yaitu pemupukan I (awal musim hujan) menggunakan separuh dosis ZA serta seluruh dosis SP plus dan KCL dengan tujuan untuk mengem-balikan energi tanaman setelah tanaman berbuah. Pemupukan II dilakukan pada saat menjelang akhir musim hujan (bulan Mei/JuniI. Pemupukan ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada tanaman agar siap menghadapi pembungaan. Metode pemberian pupuk baik pada pemupukan I maupun II adalah secara ditabur melingkar dengan digali (dialur) selebar kanopi tanaman. Setelah ditabur, tanah harus ditutup kembali agar pupuk tidak tercuci atau menguap.

Penyiraman

Penyiraman dengan mem-berikan air dua kali seminggu selama masa reproduksi yaitu selama 3 bulan pada saat buah mangga berukuran sebesar biji kedelai (2 minggu setelah polinasi/penyerbukan) sampai buah menjelang dipanen. Penyiraman terhadap pohon mangga dapat dilakukan secara manual maupun dengan cara modern (drop irrigation) seperti yang banyak digunakan di perkebunan mangga yang luas. Dengan melakukan penyiraman diharapkan dapat menghalangi/menghambat terbentuknya lapisan absisi pada pangkal tangkai buah mangga yang menyebabkan keguguran. Disamping itu dengan ketersediaan air yang cukup di daerah perakaran akan menjamin penyerapan unsur hara oleh akar-akar tanaman yang pada akhirnya sangat berguna bagi perkembangan buah. Dengan cara penyiraman ini diharapkan dapat meningkatkan hasil 50-60%.

Pengendalian Hama/Penyakit

Kerontokan yang terjadi pada buah mangga tidak terlepas dari adanya hama dan penyakit yang menyerang. Semakin banyak tingkat serangan hama/penyakit, semakin besar pula tingkat kerontokan pada buah mangga. Dengan melakukan pengendalian terhadap hama dan penyakit, maka tingkat kerontokan akan bisa dikurangi/ditekan. Adapun hama dan penyakit yang sering menyebabkan kerontokan pada buah mangga adalah Lalat buah (Dacus dorsalis) dan penggerek buah (Norda albizonalis). Kedua hama ini menyerang buah mangga baik yang masih muda maupun yang sudah tua. Untuk mengendalikan lalat buah, dapat digunakan perangkap yang berisi Methyl Eugenol (ME) yang dapat dicampur dengan insektisida murni. Sedangkan untuk mengen-dalikan penggerek buah dapat dilakukan dengan insektisida kontak dan sistemik. Pengendalian lainnya yang dilakukan sebagai tindakan pencegahan adalah dengan melaku-kan pembungkusan (bagging) menggunakan kertas koran atau kertas semen. Keuntungan lain dengan cara ini adalah didapatkannya warna cerah dan menarik.
Penyakit yang sering menye-rang mangga antara lain : Antraknose dan Diplodia. Antracnose menyerang pada setiap stadia, terutama pada kondisi kelembaban tinggi. Sedangkan Diplodia biasanya menyerang buah yang menyebabkan buah pecah dan mengeluarkan lendir (blendok). Untuk mengendalikan Antracnose dapat digunakan fungisida kontak misalnya Kocide 77WP, sedangkan penyakit Diplodia dengan meng-gunakan fungisida sistemik. Dengan semakin mahalnya harga pestisida, para petani dapat menggunakan pestisda alternatif seperti larutan daun tembakau. Untuk pengganti fungisida dapat pula digunakan bubur bordo yang terdiri dari campuran larutan trusi (CuSO4) dan air kapur.

Lebih Menguntungkan

Meskipun upaya-upaya yang disarankan diatas membutuhkan biaya ekstra, namun keuntungan yang diperoleh juga akan meningkat. Bila kita dapat menekan kerontokan buah mangga, maka pendapatan yang diperoleh juga meningkat. Pada Tabel terlihat bahwa tanpa tindakan tehnis kerontokan buah, maka keuntungan petani hanya diperoleh Rp. 4.300.00,- sedangkan dengan melakukan tindakan tehnis pencegahan, keuntungan yang dapat dicapai adalah sebesar Rp. 7.900.000,- Hal ini dipengaruhi oleh produksi buah yang hanya mencapai 50% dari produksi anjuran akibat rontok buah, sehingga pendapatan yang diperoleh pun tidak maksimal.
(Ahmad Roudi dan Yunisatuti, staff peneliti BPTP Malang)

0 komentar:

Poskan Komentar